Kamis, 15 Juli 2010

Sistem Sosial Budaya Indonesia


PENDIDIKAN DI SEKOLAH PENGUSUNG KEBEBASAN
( ANALISA ARTIKEL DARI SUDUT MODERNISASI )

BAB I
PENDAHULUAN
RINGKASAN ARTIKEL
Redaksi Kompas hari Jumat , 9 April 2010 menerbitkan artikel dengan judul Pendidikan di Sekolah Pengusung Kebebasan. Artikel ini memberitakan tentang dua sekolah yang telah mempraktikkan konsep pendidikan yang mengusung Kebebasan. Kreativitas dan kemampuan berpikir kritis saat ini disepakati sebagai pilar utama pengembangan jiwa kewirausahaan ( entrepreneurship ). Seperti yang dipraktikkan oleh dua sekolah yang ada di Yogyakarta yaitu Sekolah Dasar Kanisius Eksperimen Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman yang berdiri sejak tahun 2002 dan Sanggar Anak Alam (Salam) di Nitiprayan, Bantul yang berdiri pada tahun 2000. Kedua sekolah ini mengusung konsep pendidikan yang membebaskan dan berusaha mendobrak kekakuan dalam pola pendidikan.
Nuansa kebebasan ini sengaja ditumbuhkan untuk menghindari tumbuhnya rasa takut pada anak, karena rasa takut yang ada pada diri anak-anak akan memadamkan kreativitas dan daya eksplorasi mereka. Proses pembelajaran sekolah masih mengacu pada kurikulum pemerintah, akan tetapi lebih mengedepankan pengasahan kreativitas, daya eksplorasi anak dan perpaduan integral dari keduanya yang membentuk kemempuan berpikir kritis.
Konsep awal berdirinya sekolah ini adalah pendidikan untuk kelompok anak dari keluarga miskin, akan tetapi keluarga menengah keatas lebih menyukai dan berminat sistem pendidikan seperti ini. Seperti menetapkan hari Sabtu sebagai hari kreativitas. Melalui kegiatan jalan-jalan, anak-anak diarahkan bersosialisasi dengan masyarakat dan alam sekitarnya. Pada hari Senin sampai Kamis, semua siswa diwajibkan mencari pertanyaan diluar pelajaran. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa berasal dari hal-hal yang ditemui sehari-hari atau peristiwa yang menggelitik rasa ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas dengan guru dan juga teman-temannya.
Yang terpenting dalam kegiatan ini adalah bukan jawaban yang diperoleh,tetapi kepekaan anak-anak dalam melihat lingkungannya dan keberanian untuk memunculkan pertanyaan. Kegiatan tingkat sekolah dasar diawali dengan kegiatan berkebun sayur- mayur atau menyiapkan hidangan di dapur. Kegiatan ini mengajak anak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, tanpa harus menghafal. Otomatis kepekaan terhadap lingkungan dan alam akan terasah. Setiap hari mereka mengamati perubahan cuaca, fauna sawah, dan perkembangan tanaman yang mereka rawat.
Lokasi atau letak kedua sekolah ini pun unik, yaitu berbaur dengan pemukiman penduduk. Tak ada pagar yang membatasi sekolah dengan masyarakat. Ruang guru, Kelas dan Perpustakaan terdiri dari beberapa rumah tradisional dan dikelilingi oleh sawah dan kebun. Pendidikan yang memerdekakan mengasah kemampuan anak untuk menemukan atau bahkan menciptakan peluang di sekitarnya, hal ini membutuhkan daya kreativitas, eksplorasi dan kepekaan akan permasalahan dalam masyarakat.
Artikel diatas merupakan Modernisasi karena Sistem dan konsep pendidikan yang diajarkan di kedua sekolah tersebut lebih mengedepankan pengembangan kreativitas, eksplorasi dan kepekaan terhadap lingkungan. Hal ini berbeda dengan sistem dan konsep pada sekolah yang ada pada umumnya. Modernisasi memberikan keuntungan bagi umat manusia, terutama adanya fakta bahwa melalui modernisasi manusia mampu mengungkap berbagai potensi yang tersembunyi dan yang tertekan dalam masyarakat pramodern.(Simmel).
BAB II
FAKTOR DAN SYARAT MODERNISASI
Modernisasi menurut Wilbert E. Moore adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional/pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial, kearah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil.
A. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Adanya penemuan dan perkembangan dibidang IPTEK ( inovasi dan pembaruan ) yaitu dengan Sistem dan konsep pendidikan yang membebaskan dan berusaha mendobrak kekakuan dalam pola pendidikan. Dengan adanya perkembangan proses pembelajaran sekolah yang lebih mengedepankan pengasahan kreativitas, daya eksplorasi anak dan perpaduan integral dari keduanya yang membentuk kemempuan berpikir kritis.
Adanya kemajuan di bidang perekonomian yaitu dengan adanya Kreativitas dan kemampuan berpikir kritis saat ini, yang disepakati sebagai pilar utama pengembangan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan Pengembangan entrepreneurship adalah kunci kemajuan. Karena dengan cara ini dapat mengurangi jumlah pengangguran, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan keterpurukan ekonomis.
Kegiatan tingkat sekolah dasar diawali dengan kegiatan berkebun sayur- mayur atau menyiapkan hidangan di dapur. Kegiatan ini mengajak anak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, tanpa harus menghafal. Otomatis kepekaan terhadap lingkungan dan alam akan terasah. Setiap hari mereka mengamati perubahan cuaca, fauna sawah, dan perkembangan tanaman yang mereka rawat. Pendidikan sistem ini akan memajukan masyarakat kita dibidang pertanian.
Dengan dicapainya stabilitas pertahanan dan keamanan dalam kehidupan bermayarakat karena secara politis sistem dan konsep pendidikan kewiraswataan dapat meningkatkan harkat sebagai bangsa yang mandiri dan bermartabat.
B. SYARAT – SYARAT MODERNISASI
Menurut Soerjono Soekanto, syarat - syarat suatu modernisasi adalah sebagai berikut :
1. Proses pembelajaran sekolah yang lebih mengedepankan pengasahan kreativitas, daya eksplorasi anak dan perpaduan integral dari keduanya yang membentuk kemempuan berpikir kritis, merupakan cara berfikir yang ilmiah (scientific thinking). Hal ini menuntut suatu sistem pendidikan dan pengajaran yang terencana dengan baik.
2. Penciptaan iklim yang favourable dari masyarakat terhadap modernisasi , dengan banyaknya masyarakat yang menyukai dan berminat dengan sistem pendidikan yang memerdekakan mengasah kemampuan anak untuk menemukan atau bahkan menciptakan peluang di sekitarnya.
Hal ini membutuhkan daya kreativitas, eksplorasi dan kepekaan akan permasalahan dalam masyarakat. Konsep awal berdirinya sekolah ini adalah pendidikan untuk kelompok anak dari keluarga miskin, akan tetapi keluarga menengah keatas lebih menyukai dan banyak yang berminat dengan sistem pendidikan seperti ini. Hal ini dilakukan secara bertahap, karena menyangkut sistem kepercayaan masyarakat.
BAB III
RESIKO MODERNISASI DAN SOLUSINYA
A. RESIKO MODERNISASI
Sistem pendidikan yang tidak didasari dengan ideologi yang kuat akan menghasilkan lulusan yang gamang dalam menerjemahkan peran dirinya di tengah masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya sarjana yang hanya berorientasi pada lapangan pekerjaan, dan tidak mencari jalan keluar dengan menjadi entrepreneur, ataupun social entrepreneur.
Pendidikan kita harus didorong untuk membangun Indonesia dari bawah, bukan untuk menjadi tenaga kerja yang melulu berharap pada investasi asing. Di sini terlihat kesalahan rancang bangun pendidikan nasional, karena mengandung bias kota dan sentralisasi pembangunan. Imbasnya, setelah melewati bangku sekolah dan perguruan, seseorang cenderung akan menuju kota dan pabrik, karena pola modernisasi sudah terinternalisasi dalam alam fikirnya.
Adanya salah Persepsi tentang Pendidikan yang lebih mengutamakan pengembangan jiwa kewirausahaan ( entrepreneurship ). Jika pendidikan wirausaha hanya dimaknai sebagai kegiatan melatih seseorang agar pintar mencari uang dan cepat meraih kekayaan, hasilnya justru akan kontraproduktif. Alih-alih akan mendekatkan masyarakat pada kehidupan sejahtera, langkah seperti itu malah akan memperburuk tatanan ekonomi daerah dan melanggengkan ketimpangan sosial ekonomi.
Adalah kekeliruan besar jika kita melihat pendidikan semata sebagai sistem yang mendorong pertumbuhan ekonomi dengan pola industrialisasi yang tercetak dalam cara berfikir positifistik (UN adalah salah satu indikatornya). Bangsa ini tidak perlu mengambil jalan keliru dengan menjadikan pendidikan sebagai mesin pencetak tenaga kerja. Karena itu bukanlah nation dan characterbuilding. Itu adalah robotbuilding. Kecuali para pemimpinnya menginginkan negara ini menjadi negara yang berisikan ratusan juta buruh semata.
Konsep pendidikan yang membebaskan dan berusaha mendobrak kekakuan dalam pola pendidikan apabila tidak ada peraturan yang membatasi akan menimbulkan permasalahan baru seperti kebebasan berpakaian, Permasalahan yang timbul yaitu akan adanya persaingan dalam penampilan para siswa dan memungkinkan akan timbulnya kelompok-kelompok dalam sekolah.
B. SOLUSI
Salah satu langkah jitu untuk meningkatkan mutu pendidikan agar para pelajar kita bisa menjadi pelaku pembangunan yang efektif di masa depan, adalah kontekstualisasi pendidikan. Yang dimaksud dengan kontekstualisasi pendidikan, adalah mengkaitkan segenap pelajaran di sekolah dengan kehidupan nyata, khususnya dengan dinamika pembangunan di daerah.
Yang harus dijadikan visi ke depan adalah pengembangan pendidikan memultiplikasi potensi sumber daya alam ke dalam tangan-tangan yang mampu memanfaatkannya secara bertanggungjawab. Prakondisi untuk memperbaiki pendidikan kita sudah ada. Desentralisasi politik dan pendidikan adalah landasan emas untuk membebaskan pendidikan dari kekangan logika (hubungan industrial).
Yang tinggal diselaraskan adalah cita-cita nasional, dan juga cita-cita daerah. Revitalisasi perguruan strategis seperti IPB juga akan sangat bermanfaat. Menanamkan kompetensi ke dalam diri anak didik adalah satu hal. Tapi membangun karakter dan jiwa adalah tantangan sesungguhnya. Tapi itu jelas waktu yang cukup untuk melakukan otokritik dan mengakui letak kesalahan dunia pendidikan kita.
BAB IV
KESIMPULAN
Perkembangan proses pembelajaran sekolah yang lebih mengedepankan pengasahan kreativitas, daya eksplorasi anak dan perpaduan integral dari keduanya yang membentuk kemempuan berpikir kritis. Kreativitas dan kemampuan berpikir kritis saat ini, yang disepakati sebagai pilar utama pengembangan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan Pengembangan entrepreneurship adalah kunci kemajuan.
Pendidikan kita harus didorong untuk membangun Indonesia dari bawah, bukan untuk menjadi tenaga kerja yang selalu berharap pada investasi asing. Dan Sistem Pendidikan yang diselaraskan dengan cita-cita nasional, dan juga cita-cita daerah. Revitalisasi pendidikan dengan konsep mengusung kebebasan juga akan sangat bermanfaat. Menanamkan kompetensi ke dalam diri anak didik adalah satu hal. Tapi membangun karakter dan jiwa adalah tantangan sesungguhnya dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta. Rajawali Pers. 2004
http://netsains.com

Tidak ada komentar: